Minggu, 27 Mei 2012

ETOS KERJA, INDUSTRIALISASI DAN KEBUDAYAAN


ETOS KERJA, INDUSTRIALISASI DAN KEBUDAYAAN

PENDAHULUAN

Dalam perjalanan waktu, nilai-nilai etis tertentu, yang tadinya tidak menonjol atau biasa-biasa saja bisa menjadi karakter yang menonjol pada masyarakat atau bangsa tertentu. Muncullah etos kerja Miyamoto Musashi, etos kerja Jerman, etos kerja Barat, etos kerja Korea Selatan dan etos kerja bangsa-bangsa maju lainnya. Bahkan prinsip yang sama bisa ditemukan pada pada etos kerja yang berbeda sekalipun pengertian etos kerja relatif sama. Sebut saja misalnya berdisplin, bekerja keras, berhemat, dan menabung; nilai-nilai ini ditemukan dalam etos kerja Korea Selatan dan etos kerja Jerman atau etos kerja Barat.
Bila ditelusuri lebih dalam, etos kerja adalah respon yang dilakukan oleh seseorang, kelompok, atau masyarakat terhadap kehidupan sesuai dengan keyakinannya masing masing.













PEMBAHASAN
A.     Pengertian Etos kerja
Etos berasal dari bahasa Yunani (etos) yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga  oleh kelompok bahkan masyarakat. .
Dalam kamus besar bahasa Indonesia etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau sesesuatu kelompok.
Secara terminologis kata etos, yang mengalami perubahan makna yang meluas. Digunakan dalam tiga pengertian yang berbeda yaitu:
b. suatu aturan umum atau cara hidup
c. suatu tatanan aturan perilaku.
d. Penyelidikan tentang jalan hidup dan seperangkat aturan tingkah laku .
Dalam pengertian lain, etos dapat diartikan sebagai thumuhat yang berkehendak atau berkemauan yang disertai semangat yang tinggi dalam rangka mencapai cita-cita yang positif.
Akhlak atau etos dalam terminologi Prof. Dr. Ahmad Amin adalah membiasakan kehendak. Kesimpulannya Etos kerja adalah refleksi dari sikap hidup yang mendasar maka etos kerja pada dasarnya juga merupakan cerminan dari pandangan hidup yang berorientasi pada nilai-nilai yang berdimensi transenden.
2. Fungsi dan Tujuan Etos Kerja
 Etos kerja berfungsi sebagai alat penggerak tetap perbuatan dan kegiatan individu. Menurut A. Tabrani Rusyan, fungsi etos kerja adalah:
a. Pendorang timbulnya perbuatan.
b. Penggairah dalam aktivitas.
c. Penggerak, seperti mesin bagi mobil besar kecilnya motivasi akan menentukan   cepat lambatnya suatu perbuatan.[1]


  1. Industrialisasi
Industrialisasi adalah suatu proses perubahan sosial ekonomi yang merubah sistem pencaharian masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Industrialisasi juga bisa diartikan sebagai suatu keadaan dimana masyarakat berfokus pada ekonomi yang meliputi pekerjaan yang semakin beragam (spesialisasi), gaji, dan penghasilan yang semakin tinggi. Industrialisasi adalah bagian dari proses modernisasi dimana perubahan sosial dan perkembangan ekonomi erat hubungannya dengan inovasi teknologi.:
  1. Struktur organisasi
  2. Ideologi
  3. Kepemimpinan

·         Faktor penghambat Industri Indonesia:

Faktor-faktor yang menjadi penghambat industri di Indonesia meliputi:

  1. Keterbatasan teknologi
  2. Kualitas sumber daya manusia
  3. Keterbatasan dana pemerintah

Dampak Industrialisasi di Indonesia

Teknologi memungkinkan negara tropis seperti Indonesia untuk memanfaatkan kekayaan hutan untuk meningkatkan devisa negara dan pembangunan infrastruktur. Hilangnya hutan di Indonesia berarti hilang juga tanaman - tanaman yang memiliki khasiat sebagai obat dan juga fauna langka yang hidup di ekosistem hutan tersebut.
Dibalik kesuksesan Indonesia dalam pembangunan sebenarnya ada kemerosotan dalam cadangan sumber daya alam dan peningkatan pencemaran lingkungan. Pada kota kota yang sedang berkembang seperti Gresik, Medan, Jakarta, Surabaya, Bandung, Lhoksumawe, bahkan hampir seluruh kota kota di pulau Jawa sudah mengalami peningkatan suhu udara, Walaupun daerah tersebut tidak pesat perkembangan industrinya.
Pencemaran dapat diklasifikasikan dalam bermacam-macam bentuk menurut pola pengelompokannya. mengelompokkan pecemaran atas dasar:
  1. Bahan pencemar yang menghasilkan bentuk pencemaran biologis, kimiawi, fisik, dan budaya.
  2. Pengelompokan menurut medium lingkungan menghasilkan bentuk pencemaran udara, air, tanah, makanan, dan sosial.
  3. Pengelompokan menurut sifat sumber menghasilkan pencemaran dalam bentuk primer dan sekunder.[2]
  1. Kebudayaan
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Unsur-Unsur
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:
  1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
    • alat-alat teknologi
    • sistem ekonomi
    • keluarga
    • kekuasaan politik
  2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
    • sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
    • organisasi ekonomi
    • alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
    • organisasi kekuatan (politik)
Wujud dan komponen
Wujud
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga:
·         Gagasan (Wujud ideal).
  • Aktivitas (tindakan).
  • Artefak (karya)
Komponen
Berdasarkan wujudnya tersebut, Budaya memiliki beberapa elemen atau komponen, menurut ahli antropologi Cateora, yaitu :
·         Kebudayaan material
·         Kebudayaan nonmaterial.
·         Lembaga social
·         Sistem kepercayaan
·         Bahasa[3]

Pengaruh dan Dampak Budaya Asing di Indonesia

Indonesia, untuk jaman sekarang, sudah mengalami perubahan kebudayaan yang membawa pengaruh bagi budaya Indonesia. Perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat homogen menuju pluralisme nilai dan norma social merupakan salh satu dampak dari adanya globalisasi. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia secara mendasar.
Dampak masuknya budaya asing antara lain :
·         terjadi perubahan kebudayaan
·          pembauran kebudayaan
·          Modernisasi
·         melemahnya nilai-nilai budaya bangsa



[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Industrialisasi

[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya
By: MEYDA N LUSY

Senin, 30 April 2012


BAB I

PENDAHULUAN




Strategi penyampaian mengacu kepada cara-cara yang di pakai untuk menyampaikan pembelajaran dan sekaligus untuk menerima serta merespon masukan-masukan dari mereka. Oleh karena itu media sebagai komponen strategi penyampaian pembelajaran yang mengacu kepada kegiatan apa yang di lakukan oleh si pelajar dan bagaimana peranan media dalam merangsang kegiatan belajar itu.[1]

Media sebagai komponen strategi pembelajaran merupakan wadah dari pesan yang oleh sumber atau penyalurnya ingin disalurkan kepada penerima pesan dan materi yang ingin disampaikan adalah pesan pembelajaran dan tujuan yang ingin dicapai adalah proses pembelajaran. Media mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan peserta didik.[2]













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Karakteristik Media dan Sumber Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai sarana dan prasarana belajar. Pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang sifatnya didisain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design), maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization). Agar berbagai sumber belajar ini dapat dikelola dengan baik, masing-masing sekolah atau rayon sekolah, dapat mendirikan suatu pusat sumber belajar (learning resources center) yang merupakan suatu tempat yang dirancang secara khusus untuk melaksanakan aktivitas terorganisir dalam mendisain, mengembangkan, memanfaatkan, mengelola, mengevaluasi, dan meneliti berbagai sumber yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penerapan pembelajaran tematik.
Pembelajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran yang bervariasi. Dengan menggunakan berbagai media akan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak, dan media tersebut dapat digunakan dalam kegiatan belajar sebagai pengganti dari objek-objek yang terlalu berbahaya atau sukar didapat, obyek yang terlalu besar atau terlalu kecil.
Berbagai cara dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan media, Rudi dan Bretz (1971) misalnya mengklasifikasi media ke dalam tujuh kelompok media, yaitu:
1.      media audio visual gerak
2.      media audio visual diam
3.      media audio semi gerak
4.      media visual gerak
5.      media visual diam
6.      media audio
7.      media cetak
B.     Pemilihan Media dan Sumber Pembelajaran Tematik
Ada beberapa prinsip yang perlu di perhatikan dalam pemilihan media yaitu:
·         Harus adanya kejelasan tentang maksud dan tujuan pemilihan tersebut.
·         “Kedekatan” dengan media
·         Adanya sejumlah media yang dapat di perbandingkan.
Sedangkan analisis sumber belajar dimaksudkan untuk mengetahui sumber-sumber belajar apa yang tersedia dan data digunakan untuk menyampaikan isi pembelajaran. Hasil dari kegiatan ini akan merupakan daftar sumber belajar yang tersedia dan siap dipakai yang dapat mendukung proses pembelajaran.
Untuk mengkaji lebih lanjut  perlu di uraikan terlebih dahulu apa itu sumber belajar  dan bagaimana klasifikasinya.
·         Sumber belajar
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang ada di sekitar lingkumgan kegiatan belajar yang secara fungsional dapat digunakan untuk membantu optimalisasi hasil belajar. Udin saripudin dan winataputra (199;65) mengelompokkan sumber belajar menjadi 5 kategori, yaitu manusia, buku/perpustakaan,media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan.[3]
·         Klarifikasi sumber Belajar
Peranan pokok sumber belajar dalam pembelajaran adalah mentranmisi rangsangan atau informasi kepada siswa-siswi.
·         Langkah analisis sumber belajar
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, bahwa hasil akhir dari analisis sumber belajar adalah berupa daftar sumber belajar yang tersedia dan dapat di pakai untuk keperluan belajar.
C.     Lembar Kegiatan Pembelajaran Tematik
Bentuk Kegiatan Pembelajaran
Pada dasarnya ada tiga bentuk kegiatan pembelajaran, yaitu:
  1. Pengajar sebagai fasilitator dan siswa-siswi belajar mandiri
  2. Pengajara sebagai sumber tunggal dan siswa-siswi belajar darinya
  3. Pengajar sebagai penyaji bahan belajar yang dipilihnya atau yang dikembangkannya.


Karakteristik lembar kegiatan pembelajaran yang baik,
    1. pengembangan bahan belajar mandiri
    2. pengembangan bahan pengajaran konvensional
    3. pengembangan bahan BPS

D.    Membuat Media Pembelajaran Tematik
Sebelum membuat media pembelajaran tematik, langkah kritis pertama yang perlu dilakukan guru dalam membuat media adalah mencari, menemukan, dan memilih media yang memenuhi kebutuhan belajar anak, menarik minat anak, sesuai dengan perkembangan kematangan dan pengalaman dan dengan sendirinya yang sesuai dengan subjek yang dipelajari.
Sebagai gambaran pembuatan media pembelajaran tematik, berikut ini dijelaskan tahapan-tahapannya,
  1. Penyusunan Rancangan
  2. Penulisan Naskah [4]















BAB III
KESIMPULAN

Pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai sarana dan prasarana belajar. Pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang sifatnya didisain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design), maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization).
Sedangkan analisis sumber belajar dimaksudkan untuk mengetahui sumber-sumber belajar apa yang tersedia dan data digunakan untuk menyampaikan isi pembelajaran. Hasil dari kegiatan ini akan merupakan daftar sumber belajar yang tersedia dan siap dipakai yang dapat mendukung proses pembelajaran.
Dalam membuat media pembelajaran tematik, langkah kritis pertama yang perlu dilakukan guru dalam membuat media adalah mencari, menemukan, dan memilih media yang memenuhi kebutuhan belajar anak, menarik minat anak, sesuai dengan perkembangan kematangan dan pengalaman dan dengan sendirinya yang sesuai dengan subjek yang dipelajari.














DAFTAR PUSTAKA
Buku Lapis PGMI

Wina Sanjaya Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Kencana Media group 2008)


[1] Buku Lapis PGMI
[3] Wina Sanjaya Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Kencana Media group 2008) hal 139
[4] BukubLaPIS PGMI Paket !0
BAB I

PENDAHULUAN




Strategi penyampaian mengacu kepada cara-cara yang di pakai untuk menyampaikan pembelajaran dan sekaligus untuk menerima serta merespon masukan-masukan dari mereka. Oleh karena itu media sebagai komponen strategi penyampaian pembelajaran yang mengacu kepada kegiatan apa yang di lakukan oleh si pelajar dan bagaimana peranan media dalam merangsang kegiatan belajar itu.[1]

Media sebagai komponen strategi pembelajaran merupakan wadah dari pesan yang oleh sumber atau penyalurnya ingin disalurkan kepada penerima pesan dan materi yang ingin disampaikan adalah pesan pembelajaran dan tujuan yang ingin dicapai adalah proses pembelajaran. Media mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan peserta didik.[2]













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Karakteristik Media dan Sumber Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai sarana dan prasarana belajar. Pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang sifatnya didisain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design), maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization). Agar berbagai sumber belajar ini dapat dikelola dengan baik, masing-masing sekolah atau rayon sekolah, dapat mendirikan suatu pusat sumber belajar (learning resources center) yang merupakan suatu tempat yang dirancang secara khusus untuk melaksanakan aktivitas terorganisir dalam mendisain, mengembangkan, memanfaatkan, mengelola, mengevaluasi, dan meneliti berbagai sumber yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penerapan pembelajaran tematik.
Pembelajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran yang bervariasi. Dengan menggunakan berbagai media akan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak, dan media tersebut dapat digunakan dalam kegiatan belajar sebagai pengganti dari objek-objek yang terlalu berbahaya atau sukar didapat, obyek yang terlalu besar atau terlalu kecil.
Berbagai cara dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan media, Rudi dan Bretz (1971) misalnya mengklasifikasi media ke dalam tujuh kelompok media, yaitu:
1.      media audio visual gerak
2.      media audio visual diam
3.      media audio semi gerak
4.      media visual gerak
5.      media visual diam
6.      media audio
7.      media cetak
B.     Pemilihan Media dan Sumber Pembelajaran Tematik
Ada beberapa prinsip yang perlu di perhatikan dalam pemilihan media yaitu:
·         Harus adanya kejelasan tentang maksud dan tujuan pemilihan tersebut.
·         “Kedekatan” dengan media
·         Adanya sejumlah media yang dapat di perbandingkan.
Sedangkan analisis sumber belajar dimaksudkan untuk mengetahui sumber-sumber belajar apa yang tersedia dan data digunakan untuk menyampaikan isi pembelajaran. Hasil dari kegiatan ini akan merupakan daftar sumber belajar yang tersedia dan siap dipakai yang dapat mendukung proses pembelajaran.
Untuk mengkaji lebih lanjut  perlu di uraikan terlebih dahulu apa itu sumber belajar  dan bagaimana klasifikasinya.
·         Sumber belajar
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang ada di sekitar lingkumgan kegiatan belajar yang secara fungsional dapat digunakan untuk membantu optimalisasi hasil belajar. Udin saripudin dan winataputra (199;65) mengelompokkan sumber belajar menjadi 5 kategori, yaitu manusia, buku/perpustakaan,media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan.[3]
·         Klarifikasi sumber Belajar
Peranan pokok sumber belajar dalam pembelajaran adalah mentranmisi rangsangan atau informasi kepada siswa-siswi.
·         Langkah analisis sumber belajar
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, bahwa hasil akhir dari analisis sumber belajar adalah berupa daftar sumber belajar yang tersedia dan dapat di pakai untuk keperluan belajar.
C.     Lembar Kegiatan Pembelajaran Tematik
Bentuk Kegiatan Pembelajaran
Pada dasarnya ada tiga bentuk kegiatan pembelajaran, yaitu:
  1. Pengajar sebagai fasilitator dan siswa-siswi belajar mandiri
  2. Pengajara sebagai sumber tunggal dan siswa-siswi belajar darinya
  3. Pengajar sebagai penyaji bahan belajar yang dipilihnya atau yang dikembangkannya.


Karakteristik lembar kegiatan pembelajaran yang baik,
    1. pengembangan bahan belajar mandiri
    2. pengembangan bahan pengajaran konvensional
    3. pengembangan bahan BPS

D.    Membuat Media Pembelajaran Tematik
Sebelum membuat media pembelajaran tematik, langkah kritis pertama yang perlu dilakukan guru dalam membuat media adalah mencari, menemukan, dan memilih media yang memenuhi kebutuhan belajar anak, menarik minat anak, sesuai dengan perkembangan kematangan dan pengalaman dan dengan sendirinya yang sesuai dengan subjek yang dipelajari.
Sebagai gambaran pembuatan media pembelajaran tematik, berikut ini dijelaskan tahapan-tahapannya,
  1. Penyusunan Rancangan
  2. Penulisan Naskah [4]















BAB III
KESIMPULAN

Pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai sarana dan prasarana belajar. Pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang sifatnya didisain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design), maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization).
Sedangkan analisis sumber belajar dimaksudkan untuk mengetahui sumber-sumber belajar apa yang tersedia dan data digunakan untuk menyampaikan isi pembelajaran. Hasil dari kegiatan ini akan merupakan daftar sumber belajar yang tersedia dan siap dipakai yang dapat mendukung proses pembelajaran.
Dalam membuat media pembelajaran tematik, langkah kritis pertama yang perlu dilakukan guru dalam membuat media adalah mencari, menemukan, dan memilih media yang memenuhi kebutuhan belajar anak, menarik minat anak, sesuai dengan perkembangan kematangan dan pengalaman dan dengan sendirinya yang sesuai dengan subjek yang dipelajari.














DAFTAR PUSTAKA
Buku Lapis PGMI

Wina Sanjaya Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Kencana Media group 2008)


[1] Buku Lapis PGMI
[3] Wina Sanjaya Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Kencana Media group 2008) hal 139
[4] BukubLaPIS PGMI Paket !0